HENDRO S. GONDOKUSUMO | FOUNDER INTILAND DEVELOPMENT GROUP

0
12

Sang Nahkoda Pendobrak Batas Risiko

“Membangun rumah murah bukan berarti mengerjakan asal jadi, tanpa memperhatikan kualitas. Saya akan panggil anak buah saya kalau mereka asal jadi mengerjakan sekalipun rumah sederhana,” ujar Hendro Gondokusumo tegas ketika menerima tim majalah Property and the City, di kantornya pada suatu hari. Cerita Hendro ini sekadar memberi ilustrasi bahwa membangun properti harus sangat memperhatikan kualitas bangunan. Ini yang dilakukan Hendro ketika membangun proyek-proyek properti di bawah bendera PT Intiland Development Tbk.

Hendro , mencontohkan ketika mengerjakan reklamasi untuk membangun Pantai Mutiara di tahun 80-an. Padahal ketika itu belum ada pengembang yang berani melakukan reklamasi pantai utara Jakarta. Dalam salah satu kisahnya seperti tertuang dalam buku Rahasia Sukses Pengusaha Properti karya Robert Adhi KSP, ia menggandeng Universitas di Singapura untuk mengurangi kadar air di dasar laut dengan menurunkan karung goni hingga 10-15 meter. Teknik untuk membuat reklamasi pantai utara disebutnya banyak sekali dan mahal. “Kami ingin yang terbaik. Sungguh ini bukan pekerjaan yang mudah,” ujar Hendro.

Jadilah, Pantai Mutiara yang fenomenal dan menjadi kawasan kanal laut pertama di Asia Tenggara. Proyek berikutnya yang menjadi fenomena dari Intiland adalah Regatta. Inilah proyek pengembangan berikutnya dari Intiland sebagai bagian terakhir dari pengembangan Pantai Mutiara, yang akan menjadi masterpiece, bangunan ikonik di Indonesia, bahkan dunia. Tidak tanggung-tanggung, Hendro meminta arsitek yang merancang bangunan Burj Al Arab di Dubai, yaitu Tom Wright dari WS Atkins Consultans dari Inggris untuk merancang Regatta. Hasilnya, Regatta bak kapal layar yang siap berlayar ke laut lepas. Keunikan desain dan konsep yang matang telah membawa Regatta sebagai proyek apartemen iconic yang menjadikan kebanggaan bagi penghuninya.

Pria kelahiran Malang, tahun 1950 sebetulnya berasal dari keluarga pedagang hasil bumi. Tetapi anak ketiga dari delapan bersaudara ini, tidak tertarik berdagang. Ketika ayah dan pamannya masuk ke bisnis properti tahun 1972, Hendro pun ikut bisnis properti. Ia seperti menemukan jalan hidupnya di dunia properti. Diakui Hendro semuanya dimulai dari nol, tak punya pengetahuan dan pengalaman. Tak ada yang mudah untuk memulai. Ia tidak segan-segan turun langsung ke pedagang Pasar Pagi saat memasarkan Taman Harapan Indah. Hasilnya, Taman Harapan Indah diisi para pedagang Pasar Pagi.

Hendro telah melewati masa-masa panjang sebagai pengembang, termasuk merasakan pahitnya ketika Indonesia dilanda krisis ekonomi tahun 1998. Ia mampu survive tanpa harus melakukan pengurangan karyawan satupun. Selepas dari krisis, dan sukses melakukan restrukturisasi tahun 2017, Intiland mampu bangkit cepat dan berkibar dengan proyek-proyek barunya. Lifetime Achievement Award sebagai bukti penghargaan terhadap Hendro yang di usia 67 tahun masih piawai menjadi nakhoda Intiland yang berlayar dengan tangguh. ●