ALEXANDER TEDJA | FOUNDER PAKUWON GROUP

0
14

Visi Besar Mengembangkan Pakuwon Group

lexander Tedja adalah contoh seorang pebisnis tulen yang tak hanya visioner, tapi juga berani melawan arus untuk menjadi pionir. Mengawali usaha dari bisnis bioskop dan perfilman, Alex Tedja justru dikenal sebagai begawan mal Indonesia berkat kepiawaiannya dalam mengembangkan mal-mal modern dan menjadi pemimpin pasar di industrinya. Melalui bendera Pakuwon Group, sebuah kelompok usaha properti yang dirintisnya tahun 1982, pria kelahiran Medan 22 September 1945, termasuk dari segelintir pengusaha daerah yang sukses melakukan ekspansi usahanya di Ibukota Jakarta

Dengan visinya yang jauh ke depan, Alex Tedja, demikian sapaan akrab karirnya, memaknai konsep malnya seperti alun-alun dalam budaya lama Indonesia. Di masa lalu, orang menjadikan alun-alun sebagai pusat jalan-jalan, tempat bertemunya orang kota dan desa dalam kegembiraan. Menurutnya, budaya alun-alun itulah yang ingin dilestarikannya. Dengan membangun mal akan memberikan ruang bagi orang-orang untuk bebas bermain, belanja, makan, menjalin bisnis atau bahkan hanya sekedar jalan-jalan tanpa harus takut kehujanan, kepanasan, dan kegelapan. “Saya gembira dapat melihat pengunjung datang ke mal dengan penuh kegembiraan dan bebas mengekspresikan keinginannya. Mereka gembira, saya pun bahagia. Saya yakin kegembiraan adalah kekuatan utama untuk meraih kemajuan,” ujar Alex.

Ketika Alex memulai bisnis malnya dengan membangun Tunjungan Plaza I (TP I) tahun 1986, banyak yang mencibirnya. Maklum, saat itu tak ada mal sebesar dan selengkap TP I. “Dari lima pengunjung yang datang, paling hanya dua yang belanja,” begitu sinisme yang kerap sampai ke telinga Alex. Baginya, meski hanya hanya dua orang yang belanja, tapi pengunjung yang datang ke malnya harus jauh berlipat daripada mal lain. Demikian kiat Alex membangun spirit kompetitif dalam bisnisnya. Dan benar saja, dengan menghadirkan tenant-tenant berkelas seperti Matahari, Gramedia dan toko-toko serta restoran terkenal di Jakarta dan Surabaya, Tunjungan Plaza menjadi destinasi belanja bagi puluhan ribu orang, dari seantero Jawa Timur setiap harinya.

Filosofi untuk menarik lebih banyak pengunjung datang ke mal itu juga yang mendasari Alex mengembangkan Tunjungan City menjadi superblok pertama di Indonesia. Pakuwon Group melengkapi TP dengan Sheraton Hotel & Tower, Mandiri Tower serta Kondominium Regensi. Setelah TP I, secara berturutan Alex membangun TP II hingga TP VI yang baru diresmikan operasinya bulan September tahun 2017.

Untuk memperluas “alun-alun” ciptaannya, Alex lantas “menghujani” Surabaya dengan mal-mal modern yang menjangkau semua kalangan. Di Surabaya Barat, Pakuwon membangun Pakuwon Trade Center (PTC) dan Pakuwon Mall, lalu Royal Plaza di Surabaya Selatan serta ITC di Surabaya Utara. Alex juga membangun kawasan hunian terpadu di berbagai wilayah di Surabaya. Saat ini Pakuwon Group telah mengembangkan tiga kawasan terpadu yaitu Kawasan Pakuwon Indah, Pakuwon City dan yang terbaru adalah Grand Pakuwon.

Naluri Bisnis
Sebagai pebisnis yang juga seniman, Alex punya seni tersendiri dalam menahkodai usahanya. Ketika Indonesia dihantam krisis moneter tahun 1998 yang membuat bisnis properti hancur, Pakuwon Group justru menjadikannya sebagai peluang untuk memperkuat bisnisnya di Ibukota. Lewat serangkaian akuisisi, Alex mengambil alih tanah Gandaria City dan Kota Kasablanka untuk kemudian disulap menjadi superblok modern khas Pakuwon. Kedua superblok tersebut melengkapi bisnis Blok M Plaza yang telah dirintis Alex di ibukota tahun 1990.

Lewat sentuhan-sentuhan magisnya, Gandaria dan Kota Kasablanka menjadi mal dan superblok yang sukses di Jakarta. Pada semester I-2017, penjualan di Gandaria City Mal dan Kota Kasablanka Mal tumbuh masing-masing 20 persen dan 18 persen, tertinggi di antara mal-mal lain di Jakarta. Fakta ini sungguh sebuah anomali ditengah isu penurunan daya beli dan penutupan gerai-gerai ritel di berbagai pusat perbelanjaan di Indonesia.

“Kami bersyukur para pengunjung di mal-mal Pakuwon terus meningkat setiap tahun. Menjadikan mal sebagai tempat untuk mendapatkan pengalaman yang luar biasa menyenangkan bagi pengunjung adalah tujuan kami. Dengan itulah loyalitas pengunjung dibangun,” tutur Alex tentang kiatnya menjaga pengunjung mal.

Bagi Alex membesarkan bisnis Pakuwon Group tak sekadar ekspansi. Lebih dari itu, Pakuwon Group harus mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan stakeholders lainnya. Hal inilah yang kemudian mendorong Alex membawa PT Pakuwon Jati melakukan penjualan saham perdana (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 9 Oktober 1989.

Berkat kegigihan Alex, kini PT. Pakuwon Jati Tbk menjadi salah satu emiten properti yang sukses. Bisnis Pakuwon tumbuh secara berkelanjutan dengan didukung fundamental yang solid. Untuk menjaga momentum pertumbuhan bisnisnya, Pakuwon juga mengembangkan proyek-proyek properti baru baik di Surabaya maupun di Jakarta. Di Jakarta, Pakuwon terus membangun superblok Kota Kasablanka menjadi superblok terbesar di Jakarta Selatan dan tengah merintis pembangunan kota terpadu di Jakarta Barat. Sementara di Surabaya, Pakuwon akan terus memperkuat penetrasinya dengan membangun properti di ketiga kawasan.

Regenerasi dan penguatan SDM di Pakuwon Group juga berjalan mulus. Alex mulai mengurangi perannya dengan “lengser” menjadi Presiden Komisaris. Untuk melanjutkan kisah suksesnya, Alex telah mempersiapkan putra sulungnya yaitu Eiffel Tedja untuk menjadi calon nahkoda Pakuwon Group. Namun saat ini adalah masa pembelajaran bagi Eiffel. Dia masih menjadi salah satu direktur dengan didukung oleh para profesional terbaik di bidangnya.

Kontribusi besar yang telah ditorehkan bagi dunia bisnis properti di tanah air mengantarkannya memeroleh Lifetime Achievement Award dalam BTN Golden Property Awards 2017. “Pakuwon harus dapat menjadi bagian penting bagi kemajuan masyarakatnya. Semakin besar kontribusi yang kita berikan kepada orang lain, berarti nilai hidup kita juga akan lebih baik,” katanya.●